/Wapres Jusuf Kalla: Cegah Kekerdilan Dengan Asupan Gizi Cukup dan Pola Hidup Sehat

Wapres Jusuf Kalla: Cegah Kekerdilan Dengan Asupan Gizi Cukup dan Pola Hidup Sehat

Lombok, Nusa Tenggara Barat, ABIM (5/5/2018) –  Anak kerdil (stunting) adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis, sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kondisi ini apabila tidak ditangani segera, maka akan berdampak pada produktivitas bangsa ke depan yang rendah.

Untuk itu dibutuhkan gerakan masyarakat secara bersama-sama mencegah kekerdilan anak-anaknya, dengan memberikan asupan gizi yang cukup dan membudayakan pola hidup sehat.

“Jadi itulah yang kita harapkan, pertemuan hari ini ialah menggerakkan masyarakat untuk melihat nasib bangsa ini ke depan, karena tanpa masyarakat sendiri yang bergerak, maka berapa pun proyek pemerintah tidak akan berhasil,” ungkap Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla saat menyampaikan sambutan pada Forum Pertemuan Desa untuk Pencegahan Stunting di Lombok Tengah, Kamis 5/5.

Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah anak lahir, atau dalam 1000 hari pertama kehidupan, tetapi stunting baru nampak setelah anak berusia 2 tahun.

Stunting berdampak pada rendahnya tingkat kecerdasan, kerentanan terhadap penyakit, dan penurunan produktivitas.

“Jadi kita bicara kekerdilan, karena kalau bayi sampai anak-anak kita kerdil, bukan saja badannya yang kerdil, tapi juga otaknya, sehingga cara berfikir dan bertindaknya tidak maksimal, maka kehidupan kita yang akan datang akan sangat terpengaruh,” ujar Wapres.

Wapres mengungkapkan, bahwa kedatangan ke Desa Dakung, Kecamatan Praya Tengah, Kabupaten Lombok Tengah itu, untuk memastikan program pencegahan kekerdilan anak (stunting) dan upaya konvergensi pada tingkat desa berjalan dengan baik, karena ini program masa depan bangsa yang menyangkut nasib generasi muda yang harus ditingkatkan kemampuan dan kualitasnya.

“Apa yang kita lihat hari ini, generasi kita yang bekerja itu hasil daripada apa yang kita lakukan 20 – 30 tahun yang lalu,” imbuhnya.

Diakuinya, bahwa program ini bukan merupakan hal yang baru, namun harus dihidupkan lagi dan diperbaiki demi masa depan bangsa.

“Dahulu ada Posyandu, bayi-bayi ditimbang juga diberi makanan bergizi, sekarang ini makin banyak dan makin perlu diperbaiki cara dan sistemnya,” tutur Wapres.

Lebih lanjut Wapres menjelaskan tentang keikutsertaan Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo, Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadi Muldjono, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani, serta Menteri Kesehatan Nila F Moeloek hadir dalam acara tersebut, yang tidak lain adalah untuk turun langsung bersamasama menyelesaikan masalah kekerdilan secara terpadu.

“Kalau di pusat bersatu, maka di daerah-daerah juga harus bersatu, disamping ada gubernur, bupati, juga kepala desa,” terangnya.

Selain melihat dari dekat berbagai program pencegahan stunting dan upaya konvergensi pada tingkat desa, Wapres juga melihat kegiatan Kader Pembangunan Manusia/KPM (Human Development Worker/HDW) dalam mendorong dan memastikan konvergensi intervensi stunting di tingkat desa, serta memantau intervensi utama pencegahan stunting di wilayah tersebut.

KPM/HDW merupakan inisiatif yang sedang diujicobakan dengan dukungan Bank Dunia. (ABIM/RN/SY/KIP Setwapres).