/Wapres Jusuf Kalla Harapkan CNBC Indonesia TV Sajikan Informasi Yang Kredibel dan Terpercaya

Wapres Jusuf Kalla Harapkan CNBC Indonesia TV Sajikan Informasi Yang Kredibel dan Terpercaya

Badung, Bali, ABIM (10/10/2018) – Wakil Presiden Jusuf Kalla (Wapres JK) menyampaikan bahwa peran media saat ini sangatlah penting dan harus memberikan informasi yang terpercaya, seimbang, dan independen. Karena itu media harus kredibel dan terpercaya.

Hal ini diungkapkan dalam pidato kunci acara Grand Launching Consumer News and Business Channel (CNBC) Indonesia di Trans Resort Bali, Rabu, 10/10.

Saat ini, kata Wapres JK, selain teknologi mempercepat penyelesaian masalah dan mempercepat produksi, juga mempercepat informasi yang sampai kepada kita. Sehingga pemenang persaingan, dapat dilihat dari yang terbaik dan yang lebih cepat.

“Lebih cepat lebih baik,” ujarnya diiringi tepuk tangan dan tawa hadirin mengingatkan jargon yang diucapkan dulu saat menjadi Calon Presiden pada Pilpres 2009.

Lebih lanjut Wapres JK memaparkan bahwa akibat dari ekonomi dunia yang telah menggelobal, informasi datang dari berbagai sumber. Oleh karena itu, di antara banyaknya informasi, dibutuhkan informasi yang kredibel dan terpercaya.

“Salah satu informasi kredibel dan terpercaya tentu dari CNBC ini. Bukan saja terpercaya, dia (juga) harus independen, dan tidak terpengaruh dengan isu politik apapun,” tuturnya.

“Inti dari informasi seperti ini adalah trust, kecepatan, dan juga independensi daripada informasi tersebut,” imbuhnya.

Wapres JK juga berharap bahwa CNBC Indonesia dapat menenuhi kriteria-kriteria tersebut yang telah diterapkan di banyak negara.

Lebih lanjut, Wapres menjelaskan bahwa di dunia ini, negara dengan sistem ekonomi terbuka, akan sangat terpengaruh dari ekonomi negara lainnya.

“Kita terpengaruh ekonomi Amerika, kita terpengaruh ekonomi China, dan sebaliknya. Tanpa informasi yang kredibel tentu kita di eksekutif, sulit untuk mendapatkan kepercayaan yang baik,” paparnya.

Di kesempatan tersebut, Wapres JK tak lupa mengapresiasi Chairul Tanjung atas karyanya. TV seperti ini memiliki peminat dan pangsa pasar tertentu seperti para pengusaha, golongan menengah atas, para pengambil keputusan, yang sangat membutuhkan informasi mengenai gejolak pasar.

“Karena semua itu berhubungana dengan bursa, dengan mata uang, dengan impor, dan investasi,” katanya.

Di awal pidatonya, Wapres JK mengakui bahwa ekonomi Indonesia saat ini mengalami banyak tantangan, meskipun IMF menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia baik.

“Hari ini juga saya banyak membaca penilaian positif kepada ekonomi kita. Walaupun di dalam negeri kadang-kadang penilaiannya lebih negatif dibanding dari luar. Inilah Indonesia, di luar dipuji, di dalam dikritik,” ucapnya.

Namun, katanya, tanpa kritikan yang positif, ekonomi kita juga tidak akan bisa berkembang dengan baik.

“Saya sendiri juga kadang-kadang terkejut bahwa luar negeri memandang cara kita mengatur ekonomi kita, termasuk yang baik, dibanding negara-negara lainnya,” tuturnya.

Di kesempatan tersebut, Wapres juga menyinggung gejolak naik turunnya rupiah. Kenaikan nilai tukar dollar terhadap rupiah semula mengkhawatirkan, namun menjadi biasa saat sudah naik.

“Pada saat (nilai tukar) rupiah (terhadap dollar Amerika) 12.000 naik menjadi 13.000, orang mengatakan nilai psikologisnya sudah terlampaui bahaya ini, ternyata naik 14.000 orang tenang saja. Sekarang naik 15.000 mula-mula orang khawatir, sekarang biasa saja. Memang (nilai tukar) 15.000 bagi importir itu berat, tetapi bagi eksportir menyenangkan,” ucapnya.

“Di Kalimantan, di Sulawesi kampung saya semua orang bergembira. Malah tanya kapan 20.000 dia naik. Iya karena pendapatan dari udang, dari kopi, dari cokelat akan naik. Tapi tentu di Jakarta, orang tidak senang. Di Bali orang senang pasti, bayar hotelnya makin mahal, makannya makin mahal,” candanya.

Karena itu, kata Wapres, dari hal-hal yang negatif kita bisa ambil sisi positifnya.

Selain itu, Wapres mengakui bahwa saat ini Indonesia masih de sit anggaran, namun hal itu akan dapat diperbaiki dengan perdagangan dan investasi yang baik.

Sebelumnya, Chaerul Tanjung selaku CEO CT Corp, melaporkan latar belakang diluncurkannya CNBC Indonesia beserta perkembangannya hingga harapan-harapannya ke depan.

Hingga hari ini, terang Chairul Tanjung, pembaca CNBCIndonesia.com yang terlebih dahulu diluncurkan pada bulan Februari lalu, telah memiliki pembaca 200.000 orang per hari, dan menurutnya pada akhir tahun ini diperkirakan bisa mencapai 400.000 hingga 500.000 pembaca.

“Untuk sebuah media dotcom, ini cepat,” tuturnya.
Chairul Tanjung melanjutkan, bahwa tahun depan pembaca CNBCIndonesia.com ditargetkan mencapai

1 juta orang dan seluruh pelaku ekonomi Indonesia telah memakai platform dotcom/mobile.
Oleh karena itu, ia dengan bangga memanfaatkan Annual Meeting IMF-WB, untuk meluncurkan CNBC

Indonesia agar informasi pasar menjadi lebih transparan.

“Kami targetkan juga platform kami menjadi platform ntech terintegrasi sehingga kami menjadi platform terintegrasi pertama di dunia,” imbuhnya.

Sementara di tempat yang sama, Presudent and Managing Director CNBC International K. C. Sullivan mengungkapkan bahwa pelanggan CNBC Internasional sejumlah 300 juta orang per bulan.

Ia menjelaskan bahwa CNBC hadir dengan multiplatform untuk menyampaikan informasi mengenai bisnis dan nansial di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Ia juga memuji Trans Corp sebagai perfect partner CNBC International.

Tampak hadir dalam acara tersebut di antaranya Ketua DPR RI Bambang Soesatyo, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Eko Putro Sandjojo, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan Halim Alamsyah.

Hadir mendampingi Wapres dalam acara, Bapak Muhammad Lut , Kepala Sekretariat Wakil Presiden Mohamad Oemar, Deputi Dukungan Kebijakan Bidang Pembangunan Manusia dan Pemerataan Pembangunan Bambang Widianto, Staf Khusus Wakil Presiden Bidang Ekonomi dan Keuangan Wijayanto Samirin, Tim Ahli Wapres Sofjan Wanandi, Muhammad Ikhsan serta Pitono Purnomo. (ABIM/DM/RN/KIP-Setwapres).