/Wapres Jusuf Kalla Lawatan ke Jenewa Swiss dan Prancis

Wapres Jusuf Kalla Lawatan ke Jenewa Swiss dan Prancis

Jakarta, ABIM (14/5/2019) – Wakil Presiden (Wapres) bertolak ke Jenewa, Swiss, Selasa dini hari (14/05/2019).

Didampingi Ibu Mufidah Jusuf Kalla, Wapres take o menuju Bandar Udara Internasional Doha, dari Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta menggunakan pesawat komersial pada pukul 00.40 WIB.

Setelah menempuh penerbangan sekitar 8 jam 25 menit, Wapres bersama Mu dah Jusuf Kalla dan rombongan terbatas tiba pada pukul 05.05 WS untuk transit.

Usai transit, pada pukul 08.05 WS Wapres beserta Mufidah Jusuf Kalla melanjutkan penerbangannya menuju Jenewa, dengan lama penerbangan sekitar 6 jam 30 menit dan diperkirakan tiba 13.35 WS atau 18.35 WIB.

Setibanya di Bandar Udara Internasional Cointrin, Jenewa (GVA), Wapres akan disambut oleh Duta Besar RI Swiss Muliaman D. Hadad dan Wakil Tetap RI di Jenewa Hasan Kleib untuk diantar menuju penginapan di Hotel Beau Rivage yang jarak tempuhnya sekitar 15 menit. Di tempat ini, rencananya telah menunggu Wakil Menteri Luar Negeri, A.M. Fachir, Deputi I Duta Besar Andreano Erwin, Deputi II Duta Besar Syamsul B. Siregar untuk menyambut kedatangan Wapres beserta Mu dah Jusuf Kalla.

Untuk diketahui jadwal buka puasa di negeri ini, Maghrib pukul 21.02 WS dan Isya pukul 22.42 WS.

Sementara di hari kedua, Wapres diagendakan bertemu dengan Wakil Perdana Menteri Malaysia Wan Azizah Wan Ismail di hotel yang sama. Selanjutnya, Wapres bersama rombongan terbatas akan menghadiri acara “The Christchurch Call to Action” serta Dinner Tech for Good Summit di Paris.

Di hari ketiga, Wapres akan mendapatkan kesempatan pertama untuk menyampaikan National Statement pada Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) 2019 yang diselenggarakan di International Conference Center Geneva (CICG).

GPDRR sendiri digelar pada 13 Mei hingga 17 Mei 2019 dengan tema “Resilience Dividend: Towards Sustainable and Inclusive Societies“.

Di sela acara, Wapres dijadwalkan bertemu dengan Komisioner Tinggi UNHCR Filippo Grandi dan Presiden International Committee of the Red Cross (ICRC) Peter Maurer, serta Sekretaris Jenderal IFRC Elhadj As Sy.

Selain itu juga diagendakan sejumlah pertemuan di antaranya dengan Direktur Jenderal International Organization for Migration (IOM) António Vitorino, Presiden International Olympic Committee (IOC) Thomas Bach, Presiden International Basketball Federation (FIBA) Horacio Muratore, serta acara kunjungan Wapres ke Kampus The Swiss Federal Institute for Vocational Education and Training (SFIVET), dan diakhiri dengan buka puasa bersama masyarakat Indonesia di Jenewa.

Dalam lawatannya, Wapres juga menyempatkan singgah di Kota Doha, sebelum kembali ke tanah air.

Di kota ini, Wapres akan buka puasa bersama masyarakat Indonesia di Doha, kemudian dilanjutkan meninjau kawasan Souq Waqif, sebuah pasar tradisional yang menggabungkan warisan dan tradisi dengan modernitas.

Setelah itu, Wapres beserta Mufidah Jusuf Kalla kembali ke tanah air, dan diperkirakan tiba di Jakarta pada Sabtu sore, 18 Mei 2019.

Kepada awak media Wapres mengungkapkan bahwa lawatannya pada 14 hingga 18 Mei 2019 ke Swiss, ditujukan karena adanya pertemuan tentang bagaimana mengatasi kebencanaan di dunia ini. Sebab dianggapnya, lanjut Wapres, Indonesia mempunyai banyak pengalaman dalam menyelesaikan berbagai bencana alam mulai dari tsunami dan gempa bumi, yang diakui dunia internasional.

“Ini kan pertemuan yang di laksanakan oleh United Nations (PBB) bagian kebencanaan, mereka minta saya, secara pribadi, langsung untuk berbicara bagaimana pengalaman Indonesia mengatasi bencana. Itu penting untuk dijadikan semacam sistem mitigasi bencana,” terangnya.

Lebih lanjut, Wapres menjelaskan selain ke Swiss, ia juga ke Prancis. Namun, ujarnya, di sana ia akan berbicara masalah teroris yang marak di internet, dengan waktu yang hampir bersamaan.

“Jadi dua acara, satu bencana, satu terorisme lewat internet,” tuturnya.

Wapres menambahkan bahwa kenapa terorisme makin kencang saat ini, karena penggunaan internet yang terus meningkat, sebagai suatu sistem komunikasi dan pengetahuan antar mereka.

“Di internet, anda bisa belajar tentang bom, idologi macam-macam, semua bisa lewat internet. Karena itu, saya bersama Rudiantara di undang Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri New Zealand yang baru ini telah menjadi korban, 2 bulan lalu,” pungkasnya.(ABIM/RN/KIP-Setwapres).