/200 WNI Manfaatkan Kuota Haji di Korsel

200 WNI Manfaatkan Kuota Haji di Korsel

Seoul, Korea Selatan, ABIM (31/7/2019) – Ellen, salah satu WNI yang berdomisili di Seoul, Korea Selatan tak bisa menyembunyikan suka citanya. Malam itu dirinya akan berangkat ke Arab Saudi untuk menjalankan ibadah haji.

“Alhamdulilah, saya luar biasa bersyukur bisa naik haji tahun ini. Tidak seperti rekan-rekan saya di Tanah Air, saya tidak perlu mengantri untuk berhaji. Biayanyapun relatif tak jauh berbeda dengan kalau kita berhaji dari Indonesia,” ungkap Ellen.

Kalfajrin Kurniaji yang telah tinggal di Busan selama 4 tahun juga merasa sangat senang dengan keberangkatannya malam tersebut. “Saya tidak menyangka dan tidak dapat berkata apa-apa akhirnya mendapat kesempatan menunaikan ibadah haji. Saya dimudahkan dengan tidak menunggu lama setelah mendapat ‘panggilan’ ke Ka’bah tahun ini,” ungkapnya.

Ellen dan Kalfajrin merupakan dua dari 200 WNI yang memanfaatkan kuota haji Korea Selatan yang mencapai 450 tahun ini, atau meningkat 100 dari kuota tahun lalu yang hanya 350. Uniknya, semua jemaah haji Indonesia dari Korsel ini juga tetap mempertahankan tradisi berdoa bersama sebelum berangkat dan dilepas secara resmi oleh Dubes RI.

Pelepasan jemaah haji Indonesia di negeri ginseng tersebut dilaksanakan di Masjid Jami Itaewon, Seoul, pada Rabu sore (31/7) sebelum mereka menuju Bandara Incheon untuk terbang ke Arab Saudi pada malam hari. Saat melepas para jemaah haji ini, Dubes Umar mendoakan agar perjalanan para jemaah berjalan lancar, ibadah dimudahkan serta semua doa diijabah karena keberangkatan haji dilandasi niatan dan doa yg tulus.

“Sayapun juga mendoakan agar saudara – saudara semua kembali ke Korea dalam keadaan sehat wal ‘afiat dan dalam keadaan keimanan yang lebih tebal serta keislaman yang jauh lebih baik dari sebelumnya,” imbuh Dubes enerjik mantan Konjen RI di LA ini.
Selain itu, Dubes Umar berpesan agar semua jemaah senantiasa menjaga nama baik Indonesia. “Senantiasa harus diingat, walaupun berangkat dari Korsel, kalian tetap warga Indonesia. Untuk itu, sikap ramah dan saling tolong-menolong serta menjaga nama baik bangsa harus dikedepankan,” pesannya.

Pesan tersebut terngiang di telinga para jemaah. “Saya punya tanggung jawab lebih karena sebagai WNI, saya juga membawa nama Korea sekaligus punya kewajiban mencitrakan dan mengenalkan Islam yang baik kepada masyarakat Korea,” ungkap Nining, salah satu jemaah.

Untuk berangkat haji, WNI di Korsel harus merogoh kantong sekitar 5.500.000 won atau setara dengan Rp. 60 jutaan. Dengan dana tersebut, mereka akan mendapatkan akomodasi di hotel berbintang yang berjarak dekat dari Kakbah di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah. Bagi mereka yang sebagian besar merupakan Pekerja Migran (TKI) menunaikan ibadah haji, sudah seperti layaknya “bermuhibah” ke negeri tetangga, ringan tidak banyak beban. Selain karena pendapatan mereka yang lumayan besar, mereka juga dapat memanfaatkan kuota haji Korsel yang masih terbuka lebar setiap tahunnya.

Islam diperkenalkan ke warga Korea baru sejak tahun 1950-an. Saat ini jumlah pemeluk Islam berkisar 145-160 ribu orang. Dari jumlah tersebut, diperkirakan 50 ribu di antaranya adalah penduduk asli Korea. Sedangkan, sisanya merupakan pendatang dari Indonesia, Malaysia, Pakistan, Turki, dan negara-negara Timur Tengah.

Peminat ibadah haji dari kalangan TKI di Korsel tiap tahun meningkat cukup pesat. Dibanding tahun lalu, jemaah calon haji tahun ini naik 30 persen. Kuota haji di Korea Selatan sebagian besar justru dipakai oleh muslim warga negara asing yang bermukim atau punya izin tinggal di sana, termasuk warga negara Indonesia. (ABIM/KBRI Seoul)