/Industri Farmasi Siap Produksi Bahan Baku Bernilai Tinggi

Industri Farmasi Siap Produksi Bahan Baku Bernilai Tinggi

Sebanyak 10 perusahaan farmasi tengah mempersiapkan diri untuk memproduksi bahan baku bernilai tambah tinggi, seperti senyawa untuk obat kanker atau nutrisi kesehatan. Langkah ini diharapkan bisa mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku farmasi nasional yang mencapai 90%

“Saat ini 90% bahan baku industri farmasi masih impor, dan masih membutuhkan investasi, terutama untuk mengolah bahan baku,” kata Direktur Eksekutif GP Farmasi, Dorodjatun Sanusi, belum lama ini

Menurutnya, rencana pemerintah untuk melakukan pembatasan impor di sektor farmasi akan ‘memaksa’ industri farmasi dalam mengembangkan produksi bahan baku. Sebelumnya, Kementerian Keuangan berencana menerapkan pajak penghasilan (PPh) 7,5% untuk barang konsumsi maupun bahan baku impor. Setidaknya, kebijakan tersebut nantinya menahan masuknya 500 komoditas impor

Meski demikian, Dorodjatun tetap berharap, pembatasan impor itu berlaku pada produk jadi, bukan bahan baku. Dia mengaku tidak keberatan apabila impor produk jadi farmasi dikenakan PPh

“Tapi memang konsekuensinya harga akan naik. Kalau bahan baku jangan, biarpun bisa mempengaruhi kemampuan industri lokal untuk mengembangkan kapasitas produksi,” katadia

Menurutnya, industri farmasi tengah mempersiapkan diri untuk memproses bahan baku di dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan impor. Dorodjatun menyebutkan, saat ini ada sekitar 10 industri farmasi yang tengah menjajaki untuk memproduksi bahan baku bernilai tambah tinggi

Dia mengatakan, pada 2019 sudah ada produk yang masuk pasar. “Yang penting investasi berjalan lancar. Kalau bahan baku dikendalikan, investasi seharusnya naik. Karena dibandingkan impor bahan baku mahal, lebih baik dia investasi di sini,” ujar dia

Dia juga menilai, penerapan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) di industri farmasi penting untuk menarik investor di dalam negeri. “Tidak bisa memproduksi, pertama, bisa karena kemampuan teknologi, ataupun karena alasan ekonomis, sehingga tidak memungkinkan,” ungkap dia

Menurut Dorodjatun, harga bahan baku farmasi tengah mengalami kenaikan akibat relokasi pabrik yang dilakukan oleh Tiongkok karena faktor lingkungan. Akibatnya, ada kekosongan sementara untuk bahan baku tertentu, karena pabriknya sedang direlokasi.

“Di Tiongkok, yang mengganggu lingkungan pabriknya harus dipindahkan keluar. Berarti ada relokasi dan berhenti sementara karena proses investasi ini. Bahkan India pun kena, karena India sebagian besar intermediete juga dari Tiongkok, keterkaitan global sangat besar,” kata Dorodjatun