Jakarta ,ABIM (28/11/2025) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali menegaskan komitmen besar dalam pengembangan keantariksaan nasional. Kepala BRIN Arif Satria menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh lagi bergantung pada negara lain dalam peluncuran satelit. Ia menyampaikan langsung visi besar pembangunan bandara antariksa nasional yang kini telah memasuki tahap krusial pada acara penganugerahan melalui penyelenggaraan Anugerah Nurtanio Award dan Nurtanio Pringgoadisuryo Memorial Lecture (NML) 2025 di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Gedung B.J. Habibie, Jakarta Pusat, Kamis (27/11)
“Terkait dengan kebijakan keantariksaan, kami sudah menyampaikan kepada Bapak Presiden terkait persiapan pembuatan bandara antariksa. Naskah akademis sudah disusun, kajiannya, dan saat ini kami menunggu penetapan lokasi secara resmi. Kami akan mengajukan ini menjadi Proyek Strategis Nasional agar bandara antariksa segera terwujud. Jika bandara antariksa ini bisa diwujudkan, tentu ini akan menjadi tonggak sejarah baru bagi keantariksaan Indonesia. Kalau India saja punya, maka seharusnya Indonesia juga harus punya. Memang belum banyak negara berkembang yang memiliki bandara antariksa,” tegas Arif Satria.
Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa BRIN telah siap secara teknologi. “BRIN sudah bisa menghasilkan satelit yang bagus, termasuk persiapan Satelit NEO-1 yang saat ini sedang dipersiapkan untuk diluncurkan pada tahun depan. Jika sudah memiliki bandara antariksa sendiri, khususnya yang diharapkan berlokasi di Biak, maka kita tidak perlu lagi tergantung pada negara lain. Ini akan sangat membanggakan bagi bangsa Indonesia,” tambahnya.
Arif Satria juga mengungkapkan bahwa kajian sudah dilaksanakan secara komprehensif dan dirinya sedang mempersiapkan kunjungan langsung untuk melihat progres di lapangan. “Kami butuh investasi besar yang melibatkan berbagai pihak. Karena itu, kami terus mendorong agar proyek ini segera ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional sehingga pendanaan menjadi lebih terstruktur dan terjamin,” ujarnya.
Sementara itu, Ayom Widipaminto, Direktur Fasilitasi Riset Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), menjelaskan alasan pemilihan Biak sebagai lokasi utama. “Biak sangat strategis karena berada di dekat garis khatulistiwa, sehingga peluncuran roket jauh lebih efisien dari segi energi. Kajian ini sebenarnya sudah dimulai sejak era LAPAN dan kini akan difinalisasi oleh BRIN. China dan Rusia sejak dulu sudah menunjukkan ketertarikan ke lokasi tersebut,” ungkap Ayom.
Sebagai informasi, Nurtanio Award dan Nurtanio Pringgoadisuryo Memorial Lecture merupakan penghargaan tertinggi pemerintah Indonesia di bidang penerbangan dan antariksa yang diberikan kepada para ilmuwan dan inovator berprestasi. Penghargaan ini melanjutkan warisan besar Marsekal Muda TNI Nurtanio Pringgoadisuryo, bapak industri dirgantara nasional dan pendiri PT Dirgantara Indonesia. Acara ini juga menjadi wujud nyata kehadiran negara dalam mendukung ekosistem riset dan teknologi antariksa Indonesia menuju kemandirian penuh. (ABIM)





