Zürich, Swiss, ABIM (10/12/2025) – Ekonomi kreatif (ekraf) merupakan mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional yang menyerap 26,47 juta tenaga kerja dengan total investasi yang mencapai Rp 90,12 triliun pada semester 1 tahun 2025. Hal ini disampaikan oleh Ketua Delegasi Kementerian Ekraf pada saat membuka kegiatan Business Matching dengan sejumlah perusahaan dan calon investor dari Swiss di Zurich. Turut ditambahkan bahwa Swiss menempati ranking kedua negara tujuan ekspor produk ekraf terbesar Indonesia, setelah pasar Amerika Serikat, dengan nilai USD 960,6 juta pada semester 1 tahun 2025.
Kementerian Ekonomi Kreatif, didukung penuh oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Bern di Swiss, menginisiasi rangkaian kegiatan promosi di Swiss untuk mempromosikan peluang investasi di sektor ekraf Indonesia, dengan menghadirkan empat perusahaan Indonesia yang bergerak di bidang ekraf, antara lain Sour Sally Group, Akasacara Film, PT. Ladang Lima, dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singasari.
Keempat perusahaan tersebut melakukan presentasi langsung di hadapan para mitra Swiss dan mengajak para investor untuk berkontribusi dalam pengembangan bisnis ekraf di Indonesia. Melalui sesi pitching dengan para mitra Swiss, keempat perusahaan juga secara lebih mendalam melakukan penjajakan kemitraan dengan para calon investor potensial.
Duta Besar RI untuk Swiss dan Liechtenstein, Ngurah Swajaya juga memandang bahwa promosi Ekraf harus semakin giat dilakukan. “Kontribusi Ekraf terhadap PDB Indonesia terus meningkat selama satu dekade, dan mencapai sekitar 7% dari PDB Indonesia. Oleh karena itu, kolaborasi antara Indonesia dan Swiss sangatlah tepat karena jika kreativitas dipadukan dengan inovasi, terutama di bidang teknologi yang cukup dikuasai Swiss, akan menghasilkan ekonomi kreatif yang unggul” ujarnya. Kreativitas Indonesia akan memiliki daya saing dan keunggulan yang kuat bila dipadukan dengan inovasi Swiss dengan menggunakan sains dan teknologi sebagai pendukungnya, tambah Dubes Ngurah Swajaya.
Sebelum kegiatan Business Matching, Ketua Delegasi Ekraf juga sempat berdialog dengan perwakilan diaspora Indonesia di Swiss, yang memiliki usaha mulai dari teknologi kesehatan, kafe, spa, kriya, dan lainnya. Delegasi ekraf juga meninjau store khusus produk advanture Indonesia, produk eiger, di Interlaken. Bertempat di Dapura Mia, restoran Indonesia yang dimiliki dan dikelola oleh diaspora Indonesia di Zurich, para diaspora sampaikan tantangan dan dukungan yang diperlukan dari pemerintah untuk mendorong ekspansi produk ekraf Indonesia ke Swiss dan Eropa secara lebih luas.
“Diaspora Indonesia selama ini telah menjadi duta bangsa, tidak hanya melalui profesi dan aktivitas masing-masing, tetapi juga melalui kontribusi nyata dalam memperkuat citra dan jejaring Indonesia di Swiss” ujar Lily Savitri, Kepala Bidang Ekonomi KBRI Bern.
Indonesia ingin memiliki industri kreatif dengan kualitas unggul seperti keunggulan daya saing industri Swiss. Untuk itu, upaya-upaya untuk memperkuat interaksi, baik untuk menembus pasar, maupun meningkatkan kerja sama melalui investasi dengan Swiss menjadi prioritas bagi ekonomi kreatif Indonesia. Dengan pendekatan yang mengutamakan kolaborasi, inovasi, dan diplomasi ekonomi, diharapkan hasil konkritnya adalah perpaduan kreativitas Indonesia dengan inovasi industri Swiss, sehingga menjadikan produk kreatif Indonesia semakin dikenal, khususnya di Swiss da pasar Eropa lainnya.(ABIM)









