Bogor, Jawa Barat, ABIM (26/1/2026) – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, mendorong para periset kedirgantaraan untuk menerapkan technology forecasting atau peramalan teknologi sebagai dasar pengambilan keputusan strategis. Menurutnya, sektor kedirgantaraan merupakan bidang yang berbiaya tinggi, kompleks, dan berjangka panjang, sehingga kesalahan kebijakan dapat menimbulkan dampak yang signifikan.
Arahan tersebut disampaikan Arif saat melakukan kunjungan kerja ke Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Jacob Salatun di Rumpin serta Kawasan Sains R. Sunaryo di Tarogong, Kabupaten Bogor, Kamis (22/1).
“Kita membutuhkan peta jalan kedirgantaraan, peta jalan satelit, peta jalan roket, serta peta jalan penerbangan hingga 2030. Kita perlu merencanakan secara jelas apa yang akan dilakukan dan memperkenalkan berbagai terobosan baru,” ujar Arif.
Ia menegaskan bahwa penerapan teknologi forecasting atau peramalan teknologi penting untuk membaca arah pengembangan keantariksaan di masa depan, sekaligus menjaga daya saing Indonesia agar mampu berperan aktif dalam persaingan antariksa global.
Selain perencanaan teknologi, Arif menilai keberhasilan riset sangat bergantung pada kualitas ekosistem pendukung. Operasional yang andal, sumber daya manusia yang kompeten, serta dukungan kelembagaan menjadi fondasi utama agar riset dapat berjalan secara optimal dan berkelanjutan.
Arif melanjutkan, peralatan riset perlu didukung oleh periset dan pengelola yang andal agar berdampak optimal. Untuk itu, di tengah keterbatasan anggaran, pengelolaan prioritas menjadi kunci, terlebih sebagian peralatan telah memasuki masa akhir usia pakai.
Ia juga menekankan pentingnya keberanian berinovasi dan budaya diskusi sebagai jantung riset. “Jika kita kuat dalam imajinasi dan kreativitas, kita akan mampu menciptakan terobosan,” ujarnya.
Selain perencanaan teknologi, Arif menilai keberhasilan riset sangat bergantung pada kualitas ekosistem pendukung. Operasional yang andal, sumber daya manusia yang kompeten, serta dukungan kelembagaan menjadi fondasi utama agar riset dapat berjalan secara optimal dan berkelanjutan.
Arif melanjutkan, peralatan riset perlu didukung oleh periset dan pengelola yang andal agar berdampak optimal. Untuk itu, di tengah keterbatasan anggaran, pengelolaan prioritas menjadi kunci, terlebih sebagian peralatan telah memasuki masa akhir usia pakai.
Ia juga menekankan pentingnya keberanian berinovasi dan budaya diskusi sebagai jantung riset. “Jika kita kuat dalam imajinasi dan kreativitas, kita akan mampu menciptakan terobosan,” ujarnya.
Dalam kunjungan Kepala BRIN tersebut, Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) BRIN, Robertus Heru Triharjanto mengajak para periset untuk lebih peka dalam membaca tren teknologi lima hingga sepuluh tahun ke depan. “Kita harus memikirkan masa depan agar tidak sekadar menjadi pengikut negara-negara pencipta teknologi, tetapi juga bisa menjadi inisiator,” tuturnya.
Menurut Robertus Heru, pengembangan teknologi kunci untuk mengurangi ketergantungan impor harus diiringi dengan cara pandang jangka panjang dan kolaboratif. Penyusunan peta jalan riset menjadi langkah penting agar Indonesia mampu memenuhi kebutuhan bangsa sekaligus berkontribusi bagi komunitas global.
“Kita perlu mengantisipasi apa yang diperlukan bangsa kita dan komunitas global dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, supaya kita bisa menjadi salah satu pemain,” ujarnya.
Dalam kunjungan tersebut, Kepala BRIN meninjau sejumlah fasilitas riset, termasuk Laboratorium Aerodinamika, Laboratorium DO-160, Hanggar Pesawat di KST Jacob Salatun, serta Laboratorium Propelan, Komposit, dan Hardware in the Loop (HWIL) di Kawasan Sains R. Sunaryo.
Kepala BRIN menilai kawasan riset ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui perbaikan fasilitas, penguatan tata kelola, dan riset yang relevan dengan kebutuhan nasional, guna memperkuat ekosistem kedirgantaraan dan mendorong inovasi strategis bagi kemajuan Indonesia. (ABIM)


