Jakarta, ABIM (9/3/2026) – Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, yang secara terbuka menyampaikan kritiknya kepada perusahaan teknologi raksasa Meta. Kritik tersebut disampaikan saat Meutya melakukan inspeksi mendadak ke kantor Meta di Sequis Tower Building, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Rabu (4/3/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Meutya tidak hanya melakukan peninjauan, tetapi juga mengungkapkan pengalaman pribadi yang menurutnya menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam sistem moderasi konten di platform milik Meta.
Foto Palestina yang Tiba-Tiba Menghilang
Dalam pertemuan dengan perwakilan Meta, Meutya menceritakan bahwa dirinya sempat mengunggah foto lama ketika berada di Palestina melalui media sosial. Namun, unggahan tersebut menurutnya menghilang dalam waktu yang sangat cepat.
Pengalaman tersebut membuatnya mempertanyakan cara kerja sistem moderasi konten yang diterapkan oleh platform digital global tersebut.
Menurut Meutya, kecepatan penghapusan konten tersebut terasa mencurigakan jika dibandingkan dengan berbagai konten bermasalah lain yang sering muncul di media sosial di Indonesia.
Ia menyampaikan keluhan tersebut secara langsung kepada perwakilan Meta yang hadir dalam pertemuan tersebut.
Penjelasan dari Pihak Meta
Menanggapi pernyataan tersebut, pihak Meta menjelaskan bahwa proses penghapusan atau distribusi konten di platform mereka berkaitan dengan sistem distribusi dan moderasi otomatis yang digunakan.
Platform digital seperti Facebook dan Instagram memang menggunakan kombinasi teknologi kecerdasan buatan, algoritma, serta sistem pelaporan pengguna untuk memoderasi konten yang dianggap melanggar kebijakan komunitas.
Namun bagi Meutya, penjelasan tersebut belum cukup menjawab kekhawatirannya.
Ia menilai bahwa ada kemungkinan standar ganda dalam penerapan moderasi konten, terutama jika melihat bagaimana konten tertentu bisa dihapus dengan sangat cepat sementara konten lain justru bertahan lama.
Tuduhan Standar Ganda dalam Moderasi Konten
Dalam pernyataannya, Meutya secara tegas mempertanyakan mengapa beberapa isu tertentu tampaknya mendapatkan respons moderasi yang jauh lebih cepat dibandingkan dengan masalah yang sering muncul di Indonesia.
Ia menyoroti berbagai jenis konten bermasalah yang kerap beredar di media sosial, seperti hoaks kesehatan, disinformasi terkait pemerintahan, hingga konten yang berpotensi memicu konflik SARA.
Menurutnya, konten-konten tersebut sering kali membutuhkan waktu lama untuk dihapus, meskipun dampaknya bisa sangat besar bagi masyarakat.
Sebaliknya, dalam kasus foto yang ia unggah terkait Palestina, penghapusan justru terjadi dengan sangat cepat.
Hal ini membuatnya mempertanyakan apakah ada mekanisme self-censorship atau penyaringan khusus untuk isu-isu tertentu.
Kritik tersebut disampaikan dengan nada yang cukup tajam dalam pertemuan tersebut.(ABIM)










