/Menteri Investasi Bahlil Lahadalia : Optimisme Investasi Indonesia di Tengah Pandemi Covid-19

Menteri Investasi Bahlil Lahadalia : Optimisme Investasi Indonesia di Tengah Pandemi Covid-19

Jakarta, ABIM (28/10/2021)  – Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mempublikasikan data realisasi investasi periode Juli – September (triwulan III) tahun 2021 mencapai Rp 216,7 triliun dan realisasi investasi secara kumulatif periode Januari – September tahun 2021 yang mencapai Rp 659,4 triliun.

Pertumbuhan ekonomi pada triwulan II tahun 2021 tercatat cukup tinggi sebesar 7,07% dengan capaian realisasi investasi Rp 223,0 triliun. Namun, realisasi investasi pada triwulan III mengalami perlambatan dibandingkan dengan triwulan II tahun 2021 sebesar 2,8%. Di sisi lain, kebijakan PPKM telah berhasil menekan penyebaran Covid-19 sampai dengan triwulan III tahun 2021 sehingga iklim investasi kembali optimis dan diharapkan pertumbuhan ekonomi di triwulan III tetap positif.

“Dengan adanya kasus peningkatan positivity rate Covid-19 pada bulan Juli sampai pertengahan Agustus, memaksa Pemerintah melakukan pembatasan kegiatan ekonomi khususnya di Pulau Jawa, mengakibatkan perlambatan kegiatan investasi. Namun, setelah penanganan yang baik oleh Pemerintah, dengan statistik penurunan kasus positif Covid-19 pada pertengahan Agustus, pergerakan ekonomi riil terus membaik, sehingga para pelaku usaha dapat melakukan percepatan konstruksi atau pembangunan proyeknya,” jelas Menteri Investasi/Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia.

Realisasi investasi triwulan III tahun 2021 mengalami peningkatan sebesar 3,7% dibandingkan periode yang sama tahun 2020 (Rp 209,0 triliun). Capaian realisasi investasi pada periode Januari – September ini menyumbang 73,3% terhadap target tahun 2021 sesuai dengan arahan Presiden sebesar Rp 900,0 triliun. Dari realisasi investasi tersebut dapat menyerap tenaga kerja Indonesia sebanyak 912.402 orang. Apabila dilihat capaian triwulan III dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2020, Penanaman Modal Asing (PMA) mengalami perlambatan sebesar 2,7% dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mengalami peningkatan sebesar 10,3%. Capaian PMA di triwulan III mengalami perlambatan sebesar 11,6% jika dibandingkan dengan capaian triwulan II tahun 2021.

Berdasarkan capaian realisasi investasi tersebut, terlihat kontribusi yang cukup signifikan dari PMDN sebesar Rp 113,5 triliun atau 52,4% dari total capaian realisasi investasi dengan penyerapan tenaga kerja Indonesia sebanyak 133.972 orang. Sektor penyumbang terbesar berasal dari perumahan, kawasan industri, dan perkantoran Rp 20,6 triliun (18,2%); sedangkan untuk lokasi proyek, realisasi investasi terbesar berada di Jawa Barat Rp 17,1 triliun (15,1%).

Dalam periode yang sama, realisasi PMA sebesar Rp 103,2 triliun atau 47,6% dari total capaian realisasi investasi dengan penyerapan tenaga kerja Indonesia sebanyak 154.715 orang. Sektor penyumbang realisasi PMA terbesar berasal dari industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya Rp 21,5 triliun (20,9%) dan untuk lokasi proyek dengan realisasi investasi terbesar berada di Jawa Barat Rp 17,7 triliun (17,1%). PMA yang menyumbangkan realisasi terbesar berasal dari negara Singapura Rp 37,4 triliun (36,2%).

Apabila dilihat dari persebarannya, realisasi investasi di Pulau Jawa mencapai Rp 104,2 triliun (48,1%), sedangkan di luar Pulau Jawa sebesar Rp 112,5 triliun (51,9%). Kinerja realisasi investasi di luar Pulau Jawa lebih tinggi dibandingkan dengan Pulau Jawa karena diberlakukannya PPKM darurat level 3 dan 4 di Pulau Jawa dan Bali, sementara realisasi investasi di luar Pulau Jawa dan Bali tetap berjalan dengan sebagian PPKM level 1 dan 2.

Pada periode triwulan III tahun 2021 ini terdapat beberapa pelaku usaha yang mulai konstruksi, antara lain di bidang usaha aktivitas data centre, industri baterai lithium, otomotif dan komponennya, serta makanan dan minuman di Jawa Barat; industri alas kaki di Jawa Tengah; serta bidang usaha lainnya yang menjanjikan menjadi basis industri pengolahan dan penunjang sektor jasa.

Bahlil menambahkan, “Kementerian Investasi/BKPM akan mewujudkan Indonesia maju di tahun 2045 dengan memastikan investasi-investasi yang menjadi tulang punggung kemandirian (back bone) industri dalam negeri dan transformasi ekonomi dapat diwujudkan. Pembangunan pabrik baterai lithium 10 GWh mulai konstruksi dan produksi mobil listrik akan dimulai akhir tahun 2022 atau awal tahun 2023 yang memastikan Indonesia akan menjadi hub industri baterai dan mobil listrik di kawasan Asia Tenggara, sehingga pada akhirnya akan mengubah paradigma lama ‘mengekspor tanah, air, dan komoditas’ menjadi ekspor produk yang bernilai tambah tinggi.”

Secara kumulatif, sepanjang periode Januari – September tahun 2021, kinerja realisasi investasi Indonesia tercatat mencapai Rp 659,4 triliun (73,3%) dari target Rp 900,0 triliun. Capaian ini terdiri atas PMA sebesar Rp 331,7 triliun (50,3%) dan PMDN sebesar Rp 327,7 triliun (49,7%) dengan penyerapan tenaga kerja Indonesia sebanyak 912.402 orang yang berasal dari PMA sebanyak 447.116 orang dan PMDN sebanyak 465.286 orang.

Sektor penyumbang terbesar PMA berasal dari industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya Rp 72,3 triliun (21,8%) dan PMDN berasal dari perumahan, kawasan industri, dan perkantoran Rp 62,8 triliun (19,2%). Lokasi proyek dengan realisasi investasi terbesar di Jawa Barat dengan PMA Rp 61,9 triliun (18,7%) dan PMDN Rp 45,3 triliun (13,8%). Adapun negara asal investasi terbesar adalah Singapura Rp 106,2 triliun (32,0%).

“Saya optimis di akhir tahun 2021, ekonomi dan investasi akan rebound. Target yang dibebankan Bapak Presiden Jokowi kepada Kementerian Investasi/BKPM sebesar Rp 900,0 triliun dapat dicapai,” ujar Bahlil di penghujung acara press release.

Lampiran Data Realisasi Investasi PMDN-PMA Triwulan III Tahun 2021

Terjadi kenaikan realisasi investasi PMDN pada periode triwulan III tahun 2021 jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2020 sebesar 10,3%; yaitu dari Rp 102,9 triliun menjadi Rp 113,5 triliun. Realisasi investasi PMA pada periode triwulan III tahun 2021 jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2020 mengalami perlambatan sebesar 2,7%; yaitu dari Rp 106,1 triliun menjadi Rp 103,2 triliun. Berikut hal penting dari capaian realisasi investasi PMDN dan PMA pada triwulan III tahun 2021:

1. Realisasi Investasi PMDN
Lima besar realisasi investasi PMDN berdasarkan sektor usaha adalah perumahan, kawasan industri, dan perkantoran (Rp 20,6 triliun); transportasi, gudang, dan telekomunikasi (Rp 17,6 triliun); jasa lainnya (Rp 13,4 triliun); konstruksi (Rp 10,3 triliun); dan pertambangan (Rp 7,9 triliun). Apabila seluruh sektor industri digabung maka sektor ini memberikan kontribusi sebesar Rp 16,7 triliun atau 14,7% dari total PMDN.
Adapun lima besar realisasi investasi PMDN berdasarkan lokasi proyek adalah Jawa Barat (Rp 17,1 triliun), DKI Jakarta (Rp 14,4 triliun), Jawa Timur (Rp 12,5 triliun), Riau (Rp 9,4 triliun), dan Jawa Tengah (Rp 7,7 triliun).

2. Realisasi Investasi PMA
Lima besar realisasi investasi PMA berdasarkan sektor usaha adalah industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya (US$ 1,5 miliar); pertambangan (US$ 0,9 miliar); transportasi, gudang, dan telekomunikasi (US$ 0,6 miliar); industri makanan (US$ 0,5 miliar); serta perumahan, kawasan industri dan perkantoran (US$ 0,5 miliar). Apabila seluruh sektor industri digabung maka sektor ini memberikan kontribusi sebesar US$ 3,6 miliar atau 51,3 % dari total PMA.
Adapun lima besar realisasi investasi PMA berdasarkan lokasi proyek adalah Jawa Barat (US$ 1,2 miliar), Sulawesi Tengah (US$ 0,7 miliar), DKI Jakarta (US$ 0,7 miliar), Banten (US$ 0,6 milliar), dan Riau (US$ 0,5 miliar). Sementara itu, lima besar realisasi investasi PMA berdasarkan asal negara adalah Singapura (US$ 2,6 miliar), Hongkong, RRT (US$ 0,9 miliar), Jepang (US$ 0,7 miliar), R.R. Tiongkok (US$ 0,6 miliar), dan Amerika Serikat (US$ 0,5 miliar).

3. Sebaran Lokasi Proyek
Pada triwulan III tahun 2021, realisasi investasi di Pulau Jawa sebesar Rp 104,2 triliun dan di luar Pulau Jawa sebesar Rp 112,5 triliun. Apabila dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2020, terjadi percepatan realisasi investasi di Pulau Jawa sebesar 5,7% dan di luar Pulau Jawa sebesar 1,9%.

4. Penyerapan Tenaga Kerja Indonesia
Realisasi penyerapan tenaga kerja Indonesia pada triwulan III tahun 2021 sebanyak 288.687 orang yang terdiri dari proyek PMDN sebanyak 133.972 orang dan proyek PMA sebanyak 154.715 orang.

Kumulatif Realisasi Investasi Periode Januari – September 2021

1. Realisasi Investasi PMDN
Lima besar realisasi investasi PMDN berdasarkan sektor usaha adalah perumahan, kawasan industri, dan perkantoran (Rp 62,8 triliun); transportasi, gudang, dan telekomunikasi (Rp 45,3 triliun); listrik, gas, dan air (Rp 31,0 triliun); konstruksi (Rp 29,8 triliun); serta tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan (Rp 23,6 triliun). Apabila seluruh sektor industri digabung maka terlihat sektor ini memberikan kontribusi sebesar Rp 63,0 triliun atau 19,2% dari total PMDN.
Adapun lima besar realisasi investasi PMDN berdasarkan lokasi proyek adalah Jawa Barat (Rp 45,3 triliun), Jawa Timur (Rp 36,4 triliun), DKI Jakarta (Rp 34,3 triliun), Jawa Tengah (Rp 23,9 triliun), dan Banten (Rp 22,5 triliun).

2. Realisasi Investasi PMA
Lima besar realisasi investasi PMA berdasarkan sektor usaha adalah industri logam dasar, barang logam, bukan mesin, dan peralatannya (US$ 5,0 miliar); transportasi, gudang, dan telekomunikasi (US$ 2,4 miliar); pertambangan (US$ 2,3 miliar); industri makanan (US$ 2,0 miliar); serta listrik, gas, dan air (US$ 1,9 miliar). Apabila seluruh sektor industri digabung maka terlihat sektor ini memberikan konstribusi sebesar US$ 11,9 miliar atau 52,4% dari total PMA.
Lima besar realisasi investasi PMA berdasarkan lokasi proyek adalah Jawa Barat (US$ 4,2 miliar), DKI Jakarta (US$ 2,6 miliar), Maluku Utara (US$ 1,9 miliar), Sulawesi Tengah (US$ 1,8 miliar), dan Banten (US$ 1,6 miliar). Adapun lima besar realisasi investasi PMA berdasarkan asal negara adalah Singapura (US$ 7,3 miliar); Hongkong, RRT (US$ 3,1 miliar); R.R. Tiongkok (US$ 2,3 miliar); Jepang (US$ 1,8 miliar); dan Belanda (US$ 1,5 miliar).

3. Sebaran Lokasi Proyek
Pada periode Januari – September 2021, realisasi investasi di Pulau Jawa sebesar Rp 318,7 triliun dan di luar Pulau Jawa sebesar Rp 340,7 triliun. Apabila dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2020, terjadi percepatan realisasi investasi di Pulau Jawa sebesar 3,7% dan di luar Pulau Jawa sebesar 12,0%.

4. Penyerapan Tenaga Kerja Indonesia
Realisasi penyerapan tenaga kerja Indonesia pada Januari – September tahun 2021 sebanyak 912.402 orang yang terdiri dari proyek PMDN sebanyak 465.286 orang (51,0%) dan proyek PMA sebanyak 447.116 orang (49,0%).

5. Realisasi investasi berdasarkan wilayah pada periode Januari – September tahun 2021 adalah:
a. Wilayah Sumatra dengan realisasi investasi sebesar Rp 143,9 triliun (21,8%), terdiri dari PMDN sebesar Rp 82,4 triliun dan PMA sebesar US$ 4,2 miliar;
b. Wilayah Jawa dengan realisasi investasi sebesar Rp 318,7 triliun (48,3%), terdiri dari PMDN sebesar Rp 164,6 triliun dan PMA sebesar US$ 10,6 miliar.
c. Wilayah Kalimantan dengan realisasi investasi sebesar Rp 57,3 triliun (8,7%), terdiri dari PMDN sebesar Rp 40,6 triliun dan PMA sebesar US$ 1,1 miliar.
d. Wilayah Sulawesi dengan realisasi investasi sebesar Rp 71,1 triliun (10,8%), terdiri dari PMDN sebesar Rp 21,0 triliun dan PMA sebesar US$ 3,4 miliar.
e. Wilayah Bali dan Nusa Tenggara dengan realisasi investasi sebesar Rp 21,3 triliun (3,2%), terdiri dari PMDN sebesar Rp 14,0 triliun dan PMA sebesar US$ 0,5 miliar.
f. Wilayah Maluku dan Papua dengan realisasi investasi sebesar Rp 47,2 triliun (7,2%), terdiri dari PMDN sebesar Rp 5,2 triliun dan PMA sebesar US$ 2,9 miliar.(ABIM)