Jakarta, ABIM (23/5/2026) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong profesor riset memperkuat kebangkitan epistemik Indonesia melalui pengembangan pengetahuan yang berpijak pada realitas dan kebutuhan bangsa. Pesan tersebut disampaikan Kepala BRIN, Arif Satria pada Sidang Terbuka Majelis Pengukuhan Profesor Riset BRIN, di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Kamis (21/5), yang mengukuhkan lima profesor riset dari berbagai bidang kepakaran.
Arif mengatakan, pengukuhan profesor riset bukan sekadar pencapaian akademik ataupun puncak karier, melainkan awal tanggung jawab yang lebih besar dalam mengarahkan pengembangan keilmuan dan agenda riset nasional.
Menurutnya, BRIN memegang mandat strategis dalam mewujudkan kebangkitan teknologi Indonesia. Namun, di samping itu terdapat agenda yang tidak kalah penting, yakni kebangkitan epistemik atau perubahan cara pandang terhadap ilmu pengetahuan.
“Bagi BRIN, kebangkitan nasional bukan semata-mata kebangkitan teknologi. Dalam konteks saat ini, kita juga perlu memperkuat kebangkitan epistemik,” ujarnya.
Arif menjelaskan selama ini pengembangan ilmu pengetahuan kerap terjebak dalam epistemic trap atau jebakan epistemik yang memandang ilmu sebagai sesuatu yang netral dan teknis semata. Menurutnya, cara pandang tersebut membuat banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, lebih sering menjadi konsumen pengetahuan dibandingkan penghasil pengetahuan.
Padahal, Indonesia memiliki modal besar untuk melahirkan pengetahuan yang lahir dari realitas dan kekayaan bangsa sendiri. Keragaman hayati (biodiversity), keragaman sosial, serta pengalaman masyarakat Indonesia dinilai dapat menjadi fondasi penting bagi pengembangan sains yang lebih relevan dan transformatif.
“Selama ini kita sering menjadi konsumen ilmu pengetahuan yang diproduksi oleh Barat. Padahal kita memiliki peluang besar untuk memproduksi ilmu pengetahuan berbasis realitas yang ada di sekitar kita,” kata Arif.
Karena itu, ia menekankan sains yang dikembangkan tidak cukup hanya berorientasi pada capaian teknis ataupun akademik, tetapi juga harus membawa dampak yang memberdayakan serta mampu menjawab tantangan sosial dan lingkungan.
Menurut Arif, pendekatan teknokratis tanpa nilai berpotensi melahirkan berbagai persoalan, mulai dari dehumanisasi hingga problem sosial dan ekologis. Oleh sebab itu, riset dan inovasi perlu dibangun dengan memadukan kekuatan logika dan nilai.
“Arah riset ke depan harus berbasis pada kekuatan akal sekaligus kekuatan nilai, seperti keadilan, kemanusiaan, dan keberlanjutan,” tegasnya.
Ia menambahkan profesor riset memiliki peran strategis bukan lagi sekadar sebagai pengguna atau pelaksana agenda riset, melainkan pengendali arah pengembangan keilmuan nasional. Peran tersebut menjadi semakin penting di tengah perkembangan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) yang berkembang pesat.
Menurut Arif, AI telah mampu membantu bahkan menggantikan sebagian kemampuan teknis manusia dalam berpikir dan melakukan analisis. Namun demikian, aspek kebijaksanaan (wisdom) dan nurani tetap menjadi kekuatan manusia yang tidak dapat digantikan teknologi.
“AI bisa membantu kemampuan teknis kita, tetapi wisdom dan kekuatan hati tidak bisa digantikan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya penguatan ilmu sosial yang berpijak pada realitas Indonesia. Banyak teori yang berkembang di tingkat global, menurutnya, lahir dari konteks masyarakat lain sehingga diperlukan keberanian dan kepercayaan diri para periset Indonesia untuk membaca serta menjelaskan realitas bangsanya melalui perspektif sendiri.
Melalui penguatan cara pandang tersebut, Arif berharap para profesor riset dapat menjadi teladan bagi generasi peneliti berikutnya sekaligus mendorong transformasi Indonesia dari konsumen menjadi penghasil pengetahuan.
“Shifting dari konsumen pengetahuan menjadi produsen pengetahuan, itulah yang harus terus kita lakukan,” pungkasnya. (ABIM)






