/Menteri Kebudayaan Fadli Zon : Kementerian Kebudayaan dan Kedutaan Besar Kerajaan Maroko Jembatani Peradaban Lewat Malam Seni Indonesia-Maroko

Menteri Kebudayaan Fadli Zon : Kementerian Kebudayaan dan Kedutaan Besar Kerajaan Maroko Jembatani Peradaban Lewat Malam Seni Indonesia-Maroko

Jakarta, ABIM (5/8/2026) — Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia bersama Kedutaan Besar Kerajaan Maroko untuk Republik Indonesia menyelenggarakan Malam Seni Indonesia-Maroko “Menjembatani Peradaban Indonesia-Maroko” di Aula Graha Utama, Gedung A,
Kompleks Kementerian Kebudayaan, Jakarta.

Menghadirkan pertunjukan musik dari kedua
negara hingga kolaborasi antarseniman, perhelatan ini menjadi ruang perjumpaan budaya
untuk mempererat hubungan Indonesia dan Maroko sekaligus memperkuat diplomasi
kebudayaan.

Hubungan Indonesia dan Maroko telah terjalin kuat di atas fondasi sejarah, kesamaan
identitas, dan solidaritas yang panjang. Sebagai dua negara dengan mayoritas penduduk
Muslim yang menjunjung nilai moderasi dan keberagaman, Indonesia dan Maroko terus
membangun sinergi, termasuk melalui kerja sama. Melalui kebudayaan, hubungan antarkedua
negara tidak hanya dibangun pada tingkat kelembagaan, tetapi juga melalui interaksi dan
pemahaman antarmasyarakat.

Musik menjadi salah satu medium yang mempertemukan kedua bangsa dalam ruang yang
lebih dekat dan universal. Kekayaan musik tradisional Maroko, termasuk musik Sufi dan
Andalusia, memiliki resonansi dengan keberagaman musik etnik dan religi Nusantara.
Pertemuan kedua tradisi tersebut menunjukkan bahwa perbedaan budaya dapat menjadi
sumber harmoni sekaligus membuka ruang pertukaran pengetahuan, apresiasi, dan
kreativitas.

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, mengatakan bahwa Malam Seni Indonesia-Maroko
menjadi wujud nyata komitmen Kementerian Kebudayaan dalam memperkuat diplomasi
kebudayaan melalui kolaborasi seni dan pertukaran budaya. Menurutnya, hubungan
Indonesia dan Maroko telah terjalin sejak berabad-abad lalu melalui pertukaran pengetahuan,
tradisi, serta nilai-nilai budaya yang terus hidup hingga kini. Karena itu, kolaborasi seni kedua negara menjadi ruang untuk memperkuat saling pengertian, mempererat persahabatan,
sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas di berbagai bidang.

“Di tengah lanskap geopolitik yang semakin kompleks, diplomasi kebudayaan menjadi salah
satu bentuk soft power yang paling efektif. Kebudayaan menciptakan ruang dialog ketika
perbedaan hadir, membangun saling percaya, memperkuat hubungan antarmasyarakat, serta
membuka peluang kolaborasi di bidang pendidikan, riset, industri budaya, pariwisata, dan
ekonomi kreatif,” ucap Menbud.

Menbud menambahkan, kolaborasi musik tradisional Indonesia dan Maroko yang ditampilkan
pada Malam Seni Indonesia-Maroko memperlihatkan bahwa dua tradisi yang lahir dari latar budaya berbeda dapat berpadu secara harmonis tanpa kehilangan identitas masing-masing.

Beliau menilai seni merupakan bahasa universal yang mampu melampaui batas negara dan
budaya, sekaligus memperkuat dialog antarperadaban melalui perjumpaan antarmasyarakat.

“Saya berharap Malam Seni Indonesia-Maroko menjadi awal bagi kerja sama yang semakin
luas antara kedua negara melalui pertukaran seniman, pelestarian warisan budaya, kolaborasi
film dan musik, riset akademik, pendidikan, serta pengembangan industri budaya dan ekonomi
kreatif,” tambah Menbud.

Senada dengan hal tersebut, Duta Besar Kerajaan Maroko untuk Republik Indonesia,
Redouane Houssaini, menyampaikan bahwa kebudayaan merupakan salah satu jembatan
terkuat yang menghubungkan bangsa-bangsa. Menurutnya, perjumpaan musisi Indonesia dan
Maroko dalam satu panggung mencerminkan semangat dialog, saling pengertian, dan
persahabatan yang telah terjalin erat antara kedua negara. Dirinya juga menilai musik memiliki
kekuatan universal yang mampu melampaui perbedaan bahasa, batas geografis, dan latar
budaya.

“Melalui pertunjukan budaya ini, kami berharap masyarakat Indonesia dapat mengenal
sebagian dari jiwa dan warisan budaya Maroko, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang
lebih luas antara Indonesia dan Maroko, khususnya di bidang seni dan kebudayaan,” ujar
Redouane.

Malam Seni Indonesia-Maroko menghadirkan beragam pertunjukan yang merepresentasikan
kekayaan budaya kedua negara. Acara diawali dengan pembacaan puisi bertajuk “Oleh
Tanjung” karya Taufiq Ismail oleh Peri Sandi Huizche, dilanjutkan dengan penampilan grup
musik Muara yang mengangkat tradisi dan kearifan lokal Indonesia melalui berbagai lagu
tradisional dengan iringan alat musik khas Nusantara, seperti Sape Dayak dari Kalimantan,
Kendang Jaipong dari Sunda, Tambur Padang, dan Kong Ah Yan Betawi. Pertunjukan
kemudian dilanjutkan oleh Melodies of Al-Andalus yang membawakan sejumlah repertoar
musik tradisional Maroko, sebelum ditutup dengan kolaborasi musisi Indonesia dan Maroko. (ABIM)