Jakarta, ABIM (24/7/2018) – Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla mengapresiasi Konferensi Internasional
Afro-Asian University Forum (AAUF) yang digelar di Kampus Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor Jawa
Timur pada 22 hingga 23 Juli 2018.
“Kita tentunya berharap hasil konferensi memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Wapres saat
menerima delegasi AAUF di Kantor Wapres, Jakarta Pusat, pada Selasa (24/7).
Lebih lanjut Wapres mengungkapkan bahwa kerjasama Universitas-Universitas Islam yang tergabung
dalam AAUF di bidang Pendidikan dan keilmuan (akademis) menurutnya sangat penting, karena
universitas memilki peran yang sangat menentukan untuk membangun peradaban dunia.
“Kerja sama ini penting karena masyarakat Islam dewasa ini menghadapi banyak tantangan,” ujarnya.
Dikesempatan tersebut, Wapres memaparkan tantangan yang di hadapi umat Islam dewasa ini.
Tantangan pertama, kata Wapres, terkait konik yang terjadi di sebagian besar negara-negara Islam.
“Kondisi itu menimbulkan krisis kemanusiaan, dan mengakibatkan jutaan orang mengungsi ke negaranegara
non Islam yang dianggap lebih aman,” paparnya.
Tantangan berikut, terang Wapres, mengenai permasalahan ekonomi. Negara-negara Islam yang kaya
akan sumber daya alam, menurutnya, karena banyak perpecahan dan kemunduran ilmu pengetahuan,
ini yang menyebabkan ketertinggalan dibanding negara lain, lanjutnya.
“Kalau Jaman Rosulullah, Hijrah dari Mekkah ke Madinah, sekarang banyak yang hijrah ke negara non
Muslim,” tambah Wapres.
Kemudian, dari segi ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Wapres mengatakan banyak dalil di Al
Quran tentang kemajuan Iptek, dan berharap tidak hanya dihapal, tapi juga diamalkan.
“Dunia Islam boleh bangga dengan kemajuan Iptek di zaman dulu, tapi sekarang tertinggal. Karena
itulah AAUF diharapkan bisa menjadi wadah untuk membagikan ilmu, yang bermanfaat untuk
kemajuan manusia,” tuturnya.
Dihadapan para Rektor Universitas Islam negara-negara sahabat, Wapres juga menyinggung
pembangunan Universitas Islam Internasional Indonesia yang apabila telah selesai nanti, ia akan
mengundang mahasisa dan para pengajar dari Asia dan Afrika untuk belajar dan mengajar.
Sebelumnya, Rektor Universitas Darussalam Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A. mengatakan AAUF
yang didirikan di Pakistan tahun 2016 ini, didasarkan semangat Dasasila Bandung. AAUF memiliki
tujuan meningkatkan kualitas SDM di negara-negara Asia dan Afrika agar maju dan sejajar dengan
negara-negara lain, terutama di Eropa. Selain turut serta berperan bagi kemajuan peradaban dunia.
Executive Director of AAUF Prof. Ashraf Abd Rae mengungkapkan alasan pemilihan Indonesia sebagai
tuan rumah, karena sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia dinilai
berkembang cukup pesat, terutama bidang Iptek. Sejalan dengan harapan Wapres, agar hasil forum
bermanfaat bagi masyarakat luas.
Universitas pendiri AAUF, antara lain, berasal dari Pakistan, Sudan, Maladewa, Brunei Darussalam,
Indonesia, Chad, Tarthaztan, Uganda, Aljazair, Yordania, Tunisia, Bangladesh, Sri Lanka, Thailand,
Malaysia, dan Mesir.
Konferensi Internasional AAUF dibuka oleh Menlu Retno Marsudi dan ditutup oleh Dirjen Pendidikan
Islam Kamaruddin Amin. Konferensi tersebut dihadiri oleh 17 rektor universitas dari 10 negara.
Turut mendampingi Wapres pada pertemuan itu, diantaranya; Kepala Sekretariat Wakil Presiden
Mohamad Oemar, Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Pembangunan Manusia dan Pemerataan
Pembangunan Bambang Widianto, Staf Khusus Wapres Bidang Penanggulangan Kemiskinan dan
Otonomi Daerah Syahrul Udjud, Staf Khusus Wapres Bidang Reformasi Birokrasi Azyumardi Azra, dan
Staf Khusus Wapres Bidang Ekonomi dan Keuangan Wijayanto Samirin. (ABIM/PN/RN/KIP-Setwapres).











