Jakarta, ABIM (18/7/2026) – Besarnya potensi pertanian dan sumber daya alam Lampung membutuhkan dukungan riset dan teknologi yang tidak hanya berhenti pada hasil penelitian, tetapi mampu menjawab kebutuhan nyata daerah dan memberi nilai tambah bagi masyarakat. Untuk mempertemukan kebutuhan pembangunan tersebut dengan kapasitas riset nasional, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Pemerintah Provinsi Lampung memperkuat kolaborasi melalui Nota Kesepakatan Sinergi (NKS) yang disahkan di Gedung B.J Habibie Jakarta, Selasa (14/7).
Kepala BRIN, Arif Satria, mengatakan Lampung memiliki potensi besar yang dapat dikembangkan melalui penguatan ekosistem riset dan inovasi. Salah satunya adalah singkong atau kasava, komoditas unggulan yang masih memiliki ruang untuk ditingkatkan, baik dari sisi produktivitas maupun hilirisasi.
“Potensi singkong di Lampung sangat besar. Ini perlu terus ditingkatkan, tidak hanya dari aspek produktivitas, tetapi juga bagaimana membangun hilirisasinya sehingga menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi,” ujar Arif.
Menurutnya, singkong memiliki potensi pemanfaatan yang luas, termasuk sebagai bahan baku gula alternatif dan biomaterial. Hampir seluruh bagian tanaman tersebut dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
“Penyatuan visi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan para periset menjadi hal yang sangat penting untuk memperkuat ekosistem riset dan inovasi di Lampung,” kata Arif.
BRIN juga telah membangun kolaborasi riset dengan perguruan tinggi di Lampung, termasuk Institut Teknologi Sumatera (Itera) dan Universitas Lampung (Unila). Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mempertemukan kekuatan riset perguruan tinggi dengan kebutuhan pembangunan daerah.
Selain pertanian, peluang kolaborasi juga terbuka pada sektor kelautan, perikanan, dan sumber daya mineral. Arif menegaskan BRIN siap memperkuat kegiatan dan fasilitas riset di Lampung untuk mendukung pengembangan berbagai potensi tersebut.
Sementara itu, Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menilai kehadiran riset dan teknologi semakin penting untuk meningkatkan daya saing sektor pertanian yang menjadi tumpuan sebagian besar masyarakat Lampung. Menurutnya, berbagai teknologi sebenarnya telah tersedia, tetapi belum seluruhnya menjangkau dan memberikan manfaat langsung kepada petani.
“Bukan lagi masyarakat atau petani yang harus menyesuaikan dengan teknologi. Teknologi yang harus kita sesuaikan dengan arah pembangunan dan kebutuhan masyarakat,” tegas Rahmat.
Ia mencontohkan teknologi pengolahan pakan, pengeringan hasil pertanian, dan hilirisasi di tingkat desa yang dapat meningkatkan efisiensi sekaligus memberi nilai tambah bagi petani. Dukungan riset juga dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas komoditas unggulan Lampung agar semakin berdaya saing.
Rahmat berharap sinergi dengan BRIN dapat mendorong lahirnya inovasi yang benar-benar menjawab persoalan daerah sekaligus memperkuat penerapan teknologi di tengah masyarakat.
“Selain riset, kami juga membutuhkan pendampingan dalam transfer dan penerapan teknologi kepada ekosistem petani dan masyarakat. Pada akhirnya, semua yang kita lakukan harus bermuara pada peningkatan produksi.” (ABIM)








