/Kepala Bpom Taruna Ikrar : BPOM Siapkan Regulasi Dukung Pengembangan Precision Medicine dan Terapi Sel

Kepala Bpom Taruna Ikrar : BPOM Siapkan Regulasi Dukung Pengembangan Precision Medicine dan Terapi Sel

Jakarta, ABIM (1/9/2026) — Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menghadiri Dr. Boenjamin Setiawan Distinguished Lecture Series (DBSDLS) 2026 yang diselenggarakan PT Kalbe Farma Tbk. pada Sabtu (29/8/2026) di The St. Regis Jakarta. Mengusung tema “Where Science Meets Purpose, Growth and Hope: The Next Chapter of Precision Medicine & Cell Therapy”, forum ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat kolaborasi antara regulator, industri, akademisi, klinisi, dan peneliti dalam mendorong pengembangan inovasi terapi di Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Taruna Ikrar menegaskan bahwa Indonesia secara proaktif menyambut perkembangan precision medicine dan advanced therapy medicinal products (ATMP) melalui penguatan kerangka regulasi. Perkembangan teknologi kesehatan yang semakin pesat perlu diiringi regulasi yang adaptif agar inovasi dapat berkembang dengan tetap menjamin aspek keamanan  efikasi, dan mutu.

“BPOM secara aktif mendukung inovasi dalam negeri melalui jalur regulasi khusus di setiap tahapan pengembangan produk, yang mengacu pada Peraturan BPOM Nomor 8 Tahun 2025 tentang Penilaian Produk Terapi Advanced  dan Peraturan BPOM Nomor 24 Tahun 2025 tentang Persetujuan Pengembangan Obat Baru,” ujar Taruna Ikrar dalam sambutannya.

Menurutnya, percepatan regulasi merupakan bagian penting dalam membangun ekosistem inovasi kesehatan yang mampu menjawab perkembangan ilmu pengetahuan sekaligus kebutuhan masyarakat. Namun, percepatan tersebut tetap harus berjalan dengan prinsip kehati-hatian dan pengawasan yang kuat untuk memastikan produk yang dikembangkan memenuhi persyaratan yang ditetapkan.

“Dalam mengawal babak baru pengobatan presisi ini, kami mengapresiasi kolaborasi erat bersama Kalbe. BPOM memastikan bahwa percepatan regulasi ini tetap berpijak pada prinsip tanpa kompromi terhadap aspek keamanan, kualitas, dan efikasi demi melindungi kesehatan seluruh masyarakat Indonesia,” tutur Kepala BPOM.

DBSDLS 2026 dihadiri lebih dari 200 dokter, peneliti, akademisi, perwakilan pemerintah, serta pemangku kepentingan kesehatan. Forum ini membahas perkembangan terkini tentang precision medicineimmune cell therapy, dan gene editing, sekaligus menguatkan sinergi lintas sektor untuk mempercepat penerapan inovasi kesehatan berbasis penelitian di Indonesia. Penyelenggaraan DBSDLS 2026 sekaligus menjadi penghormatan terhadap Dr. Boenjamin Setiawan, pendiri Kalbe yang memiliki perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan, penelitian, dan inovasi kesehatan.

Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk. Irawati Setiady turut menyampaikan bahwa semangat yang diwariskan Dr. Boenjamin Setiawan akan menempatkan ilmu pengetahuan dan inovasi sebagai sarana untuk memberikan manfaat dan harapan bagi kehidupan manusia. Menurutnya, Kalbe akan terus menjadi bagian dari ekosistem yang mempertemukan sains, inovasi, dan kolaborasi agar kemajuan teknologi kesehatan dapat memberikan manfaat nyata bagi pasien dan masyarakat Indonesia.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin mengapresiasi upaya Kalbe dalam mendukung transformasi kesehatan berbasis bioteknologi. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dengan industri dan pemanfaatan sains, termasuk data genomik melalui Biomedical and Genome Science Initiative (BGSI), untuk memperkuat ketahanan kesehatan nasional serta mempersiapkan Indonesia menghadapi perkembangan teknologi kesehatan generasi baru.

Sejalan dengan hal tersebut, BPOM terus mendorong kolaborasi antara pemerintah, regulator, industri, perguruan tinggi, dan fasilitas pelayanan kesehatan untuk memperkuat ekosistem inovasi kesehatan nasional. Sinergi tersebut diharapkan dapat mempercepat hilirisasi hasil riset menjadi produk kesehatan yang aman, berkualitas, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

DBSDLS 2026 juga menghadirkan sejumlah pakar medis dan ilmuwan dari dalam dan luar negeri, antara lain Prof. Toh Han Chong dari National Cancer Center Singapore, Prof. Dr. dr. Aru W. Sudoyo dari Yayasan Kanker Indonesia, Adj. A/Prof. Danny Soon dari Duke-National University of Singapore (NUS) Medical School, dan Fatwa Adikusuma dari Adelaide University. Para pakar membahas berbagai perkembangan mutakhir terapi sel imun, teknologi gene editing, hingga adoptive T-cell therapy untuk penanganan solid tumours.

Melalui kehadiran BPOM dalam forum ilmiah tersebut, kolaborasi lintas sektor diharapkan semakin kuat dalam mengawal perkembangan teknologi kesehatan generasi baru. BPOM berkomitmen untuk terus menghadirkan regulasi yang adaptif dan responsif terhadap kemajuan ilmu pengetahuan, sekaligus memastikan setiap inovasi yang dikembangkan tetap memenuhi prinsip keamanan, efikasi, dan mutu untuk memberikan manfaat optimal bagi masyarakat Indonesia. (ABIM)