/Kepala Bpom Taruna Ikrar : BPOM dan BRIN Perkuat Kolaborasi Riset dan Inovasi Obat dan Makanan Nasional

Kepala Bpom Taruna Ikrar : BPOM dan BRIN Perkuat Kolaborasi Riset dan Inovasi Obat dan Makanan Nasional

Jakarta, ABIM (1/3/2026) – Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menyambut kehadiran Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria dan jajaran di Kantor BPOM, Jumat (27/2/2026). Kunjungan ini menjadi langkah kolaborasi untuk mengembangkan inovasi di bidang obat dan makanan yang didukung proses riset dan pengembangan (litbang) yang terintegrasi, berbasis sains, serta berorientasi pada kebutuhan masyarakat dan daya saing industri nasional.

Berdiskusi langsung di Ruang Tamu Kepala BPOM, turut hadir jajaran BRIN yang terdiri dari Kepala Organisasi Riset Kesehatan Indi Dharmayanti, Kepala Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional Sofa Fajriah, serta Kepala Pusat Riset Vaksin dan Obat Masteria Yunovilsa Putra. Dalam pertemuan tersebut, Taruna Ikrar menekankan potensi pengembangan konsep kolaborasi ABG (academia-business-government) sebagai strategi dalam meningkatkan inovasi produk obat dan makanan melalui hilirisasi. Dari sisi akademik, Ia menyampaikan bahwa hingga saat ini, BPOM telah menjalin sebanyak 180 kerja sama dengan perguruan tinggi yang berkontribusi dalam mendukung penguatan kolaborasi ABG.

“Kunjungan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi strategis BPOM dan BRIN dalam memperkuat riset dan hilirisasi produk obat dan makanan,” ujarnya.

Taruna kemudian menyampaikan komitmen BPOM dalam mendukung program prioritas dan arahan Presiden RI, termasuk penguatan riset dan inovasi yang berorientasi pada pembangunan industri nasional serta peningkatan pendapatan negara. Dalam implementasinya, BPOM akan mendorong hilirisasi riset dan inovasi produk dengan memastikan hasil riset BRIN tidak berhenti pada publikasi ilmiah semata, tetapi dapat berlanjut hingga memperoleh izin edar BPOM. Untuk hal ini, BPOM siap melakukan pendampingan pra-pasar (pre-market), termasuk fasilitasi regulatory assistance agar riset maupun uji klinik yang dilakukan tetap sesuai dengan prosedur dan regulasi.

“BPOM berkomitmen untuk memberikan pendampingan kepada BRIN dalam percepatan sertifikasi cara pembuatan obat yang baik bagi fasilitas produksi, di antaranya untuk produk biologi (sel punca dan vaksin) dan radiofarmaka,” tuturnya lagi.

Setelah sesi diskusi, Kepala BPOM mengajak Kepala BRIN dan jajaran untuk melihat sejumlah fasilitas utama BPOM, diantaranya BPOM Command Center (BCC) sebagai pusat kendali dan pemantauan pengawasan obat dan makanan secara terintegrasi, Laboratorium Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPPOMN) yang berperan dalam pengujian mutu dan keamanan produk, serta Gedung Merah Putih yang dilengkapi dengan ruang diorama, fasilitas kebugaran (gym), dan auditorium.

Dalam sesi doorstep bersama media, Kepala BRI Arif Satria menyampaikan bahwa hasil diskusi antara BRIN dan BPOM berfokus pada upaya memperkuat kedaulatan di bidang kesehatan, salah satunya melalui pengembangan fitofarmaka. Langkah ini diharapkan mampu menurunkan ketergantungan terhadap obat impor sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya lokal. Dengan begitu, diharapkan kolaborasi ini semakin memperkuat industri berbasis dalam negeri dan menjadi bagian dari proses kemandirian ekonomi nasional.

“Oleh karena itu, BRIN dan BPOM sepakat untuk mempercepat serta meningkatkan jumlah fitofarmaka dengan mendorong obat-obatan herbal di Indonesia agar bisa menjadi fitofarmaka sehingga ketergantungan kita pada obat-obat impor semakin menurun,” jelas Kepala BRIN.

Tak hanya fitofarmaka, Arif Satria juga menyambut penguatan kolaborasi riset vaksin sebagai bagian dari kepentingan nasional (national interest). Ia menuturkan bahwa BRIN dan BPOM memiliki kesamaan pandangan dalam mendorong lahirnya berbagai inovasi di bidang vaksin. Sinergi kedua lembaga ini dinilai sebagai terobosan strategis untuk memperkuat kemandirian riset, pengembangan, dan inovasi vaksin nasional.

“Saat ini, BRIN sedang menyiapkan riset untuk vaksin meningitis, dan bahkan dengan beberapa negara, kita sedang kembangkan vaksin untuk kanker. Jadi, ini adalah terobosan yang bisa kita hasilkan berdua, antara BPOM dengan BRIN, untuk bisa membuat kita berjaya di bidang vaksin,” lanjutnya.

Ke depannya, kolaborasi antara BPOM dan BRIN diharapkan menjadi fondasi kuat dalam mempercepat hilirisasi riset dan inovasi di bidang obat, makanan, serta vaksin. Sinergi kedua lembaga ini tidak hanya bertujuan memperkuat perlindungan kesehatan masyarakat, tetapi juga mendorong kemandirian industri nasional berbasis riset dan sumber daya lokal, sekaligus mendukung pencapaian kepentingan nasional di sektor kesehatan secara berkelanjutan. (ABIM)