Jakarta, ABIM (1/5/2026) – BPOM terus memperkuat perannya dalam pengembangan industri farmasi nasional dalam rangka mendukung ketersediaan obat yang aman, berkhasiat, dan bermutu bagi masyarakat. Komitmen ini ditunjukkan melalui kehadiran Kepala BPOM Taruna Ikrar pada acara peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan fasilitas industri farmasi PT Mitra Prima Internasional (PT MPI) yang berlokasi di Kawasan Industri Taruma Indah, Cakung, Jakarta Timur, Kamis (30/4/2026).
Fasilitas ini ditargetkan memperoleh sertifikasi cara pembuatan obat yang baik (CPOB) pada tahun 2027 dan menjadi salah satu industri farmasi pertama di Indonesia yang memiliki kemampuan manufaktur oral peptide glucagon-like peptide-1 (GLP-1). GLP-1 merupakan sebuah inovasi penting yang digunakan dalam terapi diabetes dan penyakit metabolik.
Kepala BPOM menegaskan bahwa kehadiran fasilitas ini menjadi penting di tengah tantangan global, termasuk dinamika geopolitik yang berdampak pada ketersediaan dan harga bahan baku obat. Saat ini, sebagian besar bahan baku farmasi, baik untuk produk kimia sintetis maupun biologis, masih bergantung pada impor.
Kepala BPOM juga menyoroti tren global di sektor farmasi yang semakin didominasi oleh produk biologi, seperti vaksin, biosimilar, dan terapi berbasis bioteknologi, yang kini menguasai lebih dari separuh pasar dunia. Kondisi ini semakin menegaskan urgensi penguatan kapasitas produksi dalam negeri sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan sektor kesehatan.
Menjawab tantangan tersebut, Kepala BPOM menekankan pentingnya investasi industri sebagai salah satu solusi strategis. “Kami sangat mengapresiasi investasi yang dilakukan PT Mitra Prima Internasional sebagai langkah konkret dalam mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat ketahanan sektor farmasi nasional,” ungkapnya.
Lebih lanjut, BPOM juga berkomitmen memperkuat peran sebagai regulator yang adaptif dan responsif. Taruna Ikrar menegaskan bahwa pihaknya akan mendorong percepatan layanan regulatori melalui penyederhanaan proses perizinan, tanpa mengesampingkan standar keamanan, khasiat, dan mutu. “Kami bertekad mempermudah seluruh proses yang dapat dipermudah, baik dalam sertifikasi maupun perizinan, dengan tetap menjaga standar keamanan dan kualitas produk,” tegasnya.
Sebagai bagian dari strategi percepatan akses, BPOM juga sedang menyiapkan skema regulasi baru berupa conditional approval untuk obat-obatan inovatif yang esensial. Kebijakan ini diharapkan dapat mempercepat ketersediaan obat bagi masyarakat dengan tetap mengacu pada standar global.
Capaian BPOM sebagai WHO-Listed Authority (WLA) turut memperkuat kredibilitas sistem pengawasan obat di Indonesia di tingkat internasional. Status ini menempatkan Indonesia sejajar dengan regulator global lainnya dan menjadi landasan dalam mendorong percepatan akses obat inovatif.
Mengakhiri sambutannya, Kepala BPOM menyampaikan harapan agar pembangunan fasilitas ini dapat memberikan manfaat yang luas dan berkelanjutan.“Semoga fasilitas ini menjadi tonggak penting dalam pembangunan sektor kesehatan nasional yang tangguh, mandiri, dan berdaya saing global, serta berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Mari kita jadikan momentum ini untuk memperkuat sinergi dalam mewujudkan kemandirian obat nasional menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.
Sejalan dengan arah kebijakan tersebut, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa penguatan industri farmasi merupakan bagian penting dari transformasi ketahanan kesehatan nasional. Ia menekankan pentingnya membangun resiliensi di sektor farmasi, vaksin, dan alat kesehatan sebagai pelajaran dari pandemi COVID-19.
“Transformasi ketahanan kesehatan menjadi salah satu pilar penting dalam sistem kesehatan Indonesia. Kita belajar dari pandemi, ketika Indonesia sangat bergantung pada impor, mulai dari obat, alat pelindung diri hingga vaksin, di tengah situasi global yang mengalami pembatasan. Ke depan, kita harus memastikan kebutuhan kesehatan masyarakat dapat dipenuhi secara mandiri,” ujarnya.
Dalam konteks penguatan ekosistem industri, pembangunan fasilitas ini juga menandai kemitraan strategis antara PT MPI dan Dr. Reddy’s Laboratories, perusahaan farmasi global dari India, dalam alih teknologi dan pengembangan produk farmasi. Kolaborasi ini diharapkan mampu mempercepat peningkatan kapasitas produksi dalam negeri sekaligus menghadirkan produk obat yang berkualitas dan mengacu pada standar regulasi internasional serta berdaya saing global.
Chief Executive Officer (CEO) Dr. Reddy’s Laboratories Ltd. Deepak Sapra menegaskan bahwa pembangunan fasilitas ini tidak sekadar investasi fisik, melainkan bagian dari upaya menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. “Ini bukan semata tentang bangunan, bukan tentang angka dalam laporan keuangan, dan bukan pula sekadar statistik. Ini tentang seorang ibu yang dapat membeli obat untuk anaknya. Ini tentang seorang lansia di daerah terpencil yang tidak lagi harus memilih antara menjalani pengobatan atau tidak. Ini tentang seorang perempuan muda yang memiliki hak untuk mendapatkan obat yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan penyimpanan dan proses produksi yang sesuai standar,” ungkapnya.
Sementara itu, Komisaris PT MPI Kuhan Selvaretnam menyampaikan bahwa pembangunan fasilitas ini merupakan kontribusi nyata dalam mendukung kemandirian farmasi nasional. Dengan nilai investasi sekitar Rp300 miliar, fasilitas ini dirancang memiliki kapasitas produksi hingga 600 juta tablet per tahun serta menyerap ratusan tenaga kerja terampil. “Pembangunan ini bukan sekadar ekspansi usaha, melainkan bentuk kontribusi nyata kami dalam menghadirkan obat yang terjangkau bagi masyarakat,” ujarnya.
Sebagai penutup, Kepala BPOM bersama Menteri Kesehatan dan sejumlah tamu undangan melaksanakan penanaman beberapa jenis pohon obat. Kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan sejuta pohon dengan filosofi “BPOM Planting A Million Trees as BPOM’s Philosophy”, sebagai simbol komitmen terhadap keberlanjutan, kesehatan, dan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat. (ABIM)










