Jakarta, ABIM (20/8/2026) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat kerja sama Indonesia–Tiongkok di bidang sains, teknologi, dan inovasi untuk meningkatkan kualitas riset, memperluas penerapan teknologi, mengembangkan kapasitas peneliti, serta mendorong hasil penelitian agar lebih berdampak bagi pembangunan.
Upaya tersebut dibahas dalam 8th Joint Committee Meeting RI-RRT on Research and Innovation, di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Selasa (18/8). Pertemuan ini menjadi forum bagi BRIN dan Ministry of Science and Technology (MOST) Tiongkok untuk meninjau perkembangan kerja sama yang telah berjalan serta menyusun arah kolaborasi pada tahap berikutnya.
Kepala BRIN, Arif Satria, mengatakan Indonesia memiliki peluang untuk memperkuat kapasitas riset dan teknologi melalui kolaborasi dengan Tiongkok. Menurutnya, pengalaman Tiongkok dalam membangun kebijakan sains dan teknologi serta mengembangkan ekosistem inovasi dapat menjadi pembelajaran bagi Indonesia.
“Kami perlu belajar dari pengalaman Anda karena sejauh ini kami tahu bahwa Anda telah berhasil mengembangkan kebijakan di bidang sains dan teknologi, dan hal itu memberikan dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Anda,” ujar Arif.
Ia juga menyoroti pengalamannya berkunjung ke Huawei di Shenzen dan berdiskusi mengenai perusahaan tersebut. Ia terkesan dengan pesatnya perkembangan Huawei sebagai raksasa teknologi Tiongkok, yang menunjukkan eratnya hubungan antara riset, teknologi, dan pertumbuhan ekonomi. Karena itu, Arif menekankan pentingnya menjaga kualitas serta dampak riset bersama Indonesia–Tiongkok.
“Saya percaya kita harus terus memperkuat kualitas dan dampak dari kegiatan penelitian bersama,” ujar Arif.
Kerja sama Indonesia–Tiongkok yang berlandaskan nota kesepahaman pada September 2023 kini diwujudkan melalui enam proposal riset kolaboratif yang mulai berjalan tahun ini. Arif menegaskan, komite bersama tak hanya mengevaluasi kerja sama yang telah berlangsung, tetapi juga menjadi wadah strategis untuk menetapkan prioritas dan membuka peluang kolaborasi baru yang berlandaskan kesetaraan dan saling menghormati.
BRIN mendorong agar hasil riset lebih cepat diterapkan dan dikomersialisasikan melalui kolaborasi antara lembaga penelitian, perguruan tinggi, industri, dan investor. Selain itu, penguatan SDM dilakukan lewat pertukaran peneliti, beasiswa, pelatihan, dan mobilitas ilmuwan muda dari kedua negara.
“Kita perlu mengeksplorasi mekanisme yang dapat lebih menghubungkan lembaga penelitian, perguruan tinggi, industri, investor, dan pemangku kepentingan lainnya, sehingga pengetahuan yang dihasilkan melalui penelitian dapat diterapkan dan dikomersialkan dengan lebih efektif. Kerja sama dalam penelitian hanya akan berlanjut jika didukung oleh jaringan yang kuat yang terdiri dari para peneliti, ilmuwan, insinyur, dan talenta muda,” ujar Arif.
Vice Minister of MOST, Long Teng, menyatakan kesiapan negaranya untuk memperluas kerja sama dengan BRIN. Ia menilai kolaborasi Indonesia–Tiongkok di bidang sains, teknologi, dan inovasi memiliki nilai strategis bagi kedua negara.
“Tiongkok siap untuk terus mendukung tim peneliti tingkat tinggi dari kedua negara dalam kerja sama penelitian, pengembangan, dan demonstrasi teknologi di bidang-bidang yang menjadi kepentingan bersama, serta bersama-sama mengembangkan platform penelitian dan pengembangan,” ungkap Long Teng.
Tiongkok juga menaruh perhatian pada penguatan SDM di bidang sains dan teknologi. MOST menyiapkan program pertukaran ilmuwan, pelatihan teknis, serta kesempatan bagi peneliti muda bekerja di Tiongkok hingga satu tahun.
Selain itu, Tiongkok menawarkan kolaborasi melalui laboratorium bersama, transfer teknologi, dan kerja sama di bidang inovasi berkelanjutan, kewirausahaan, serta teknologi antariksa.
Selain memperkuat kerja sama di bidang sains dan pengembangan SDM, BRIN juga melihat peluang kolaborasi pada teknologi strategis seperti kecerdasan artifisial (AI) yang mendukung sektor pangan, energi, kemaritiman, dan antariksa. BRIN telah bekerja sama dengan Tiongkok dalam pemanfaatan AI untuk penginderaan jauh.
“AI sangat penting untuk semua sektor dalam kegiatan ekonomi, dan kita perlu memperkuat teknologi AI untuk memperkuat program kita di bidang pangan, energi, serta maritim, termasuk antariksa. Kami memiliki kerja sama dengan Tiongkok mengenai bagaimana menggunakan AI untuk penginderaan jarak jauh.” ujar Arif.
Pertemuan ke-8 Komite Bersama yang melanjutkan pertemuan di Beijing pada November 2024 menegaskan arah riset dan perluasan kerja sama kedua negara. BRIN mendorong agar kolaborasi Indonesia–Tiongkok di bidang sains, teknologi, dan inovasi semakin efektif melalui penguatan riset, pengembangan talenta, serta transfer teknologi yang berkelanjutan dan berdampak bagi ekosistem riset nasional.
“Saya berharap dapat melihat komitmen kita hari ini diterjemahkan ke dalam implementasi yang konkret,” kata Arif. (ABIM)









