/Kepala BRIN Arif Satria : BRIN dan Kemdiktisaintek Siapkan Peta Jalan Riset Indonesia 2045

Kepala BRIN Arif Satria : BRIN dan Kemdiktisaintek Siapkan Peta Jalan Riset Indonesia 2045

Jakarta, ABIM (22/4/2026) – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) tengah menyiapkan peta jalan riset Indonesia 2045 serta agenda riset hingga 2029.

“Kita sudah sepakat tentang peta jalan riset Indonesia, yang insya Allah mungkin minggu depan akan kita luncurkan. Satu buku peta jalan riset Indonesia 2045, satu lagi agenda riset sampai 2029,” ujar Kepala BRIN, Arif Satria, dalam kegiatan Open Talk BRIN Goes to Global Recognition and Nobel Prize bertajuk “BRIN Menjemput Talenta Riset: Dari Sekolah hingga Panggung Dunia”, di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Senin (20/4).

Ia mengatakan, kedua dokumen tersebut akan menjadi acuan bersama dalam pengembangan riset nasional.

Arif menekankan bahwa riset dasar dan riset terapan tidak perlu dipertentangkan, tetapi harus berjalan beriringan. “Basic dan applied research, ini dua-duanya harus berjalan beriringan,” katanya.

Menurutnya, peran negara masih penting dalam mendorong riset, terutama karena kapasitas riset dan pengembangan (R&D) industri di Indonesia masih terbatas. Karena itu, negara hadir untuk memperkuat riset, baik untuk kebutuhan saat ini maupun jangka panjang.

Selain itu, ia menyampaikan bahwa BRIN memposisikan diri sebagai institusi yang melakukan forecasting teknologi ke depan. “Kita harus membayangkan 2035 itu teknologi apa yang akan berkembang,” ucap Arif.

Ia mencontohkan, dalam pengembangan teknologi baterai, diperlukan kemampuan memprediksi material yang akan digunakan di masa depan, apakah tetap berbasis nikel atau beralih ke material lain seperti grafena atau grafit.

Kemampuan memproyeksikan teknologi, lanjutnya, menjadi penting agar riset yang dilakukan saat ini dapat memberikan manfaat pada masa mendatang. “Kita akan bisa melakukan riset hari ini yang hasilnya kita rasakan pada 2035-2040, dan seterusnya,” tambahnya.

Arif menegaskan, riset tidak hanya untuk menyelesaikan persoalan saat ini, tetapi juga untuk mengantisipasi masa depan. (ABIM)